Sabtu, 18 Februari 2012

Review : Hafalan Shalat Delisa



"Aku sayang Ummi karena ALLAH"(Delisa)


Siapa yang tidak ingat dengan bencana maha dahsyat pada 26 desember 2004.ya, dialah Tsunami yang meluluh-lantakkan negeri serambi mekkah dan beberapa negara lainnya. Hafalan Shalat Delisa pun hadir bertepatan pada 7 tahun peringatan tragedi yang akan selalu di kenang dunia tersebut. Film di bawah arahan Sony Gaokasak (Tentang Cinta- 2007) mengisahkan tentang Delisa yang harus berjuang hidup setelah selamat dari bencana tsunami walaupun ia telah kehilangan sebelah kakinya. Hafalan Shalat Delisa yang di ankat dari sebuah novel berjudul sama karya Tere Liye memang mempunyai banyak momen yang akan mengundang haru dan air mata pada penontonnya, terlebih mereka yang pernah mengalami sendiri bencana maha dahsyat tersebut.

Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi)
26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktek shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara

Delisa berhasil diselamatkan Prajurit Smith (Mike Luwis), setelah berhari-hari pingsan di cadas bukit. Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Prajurit Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa. Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga, dan Ummi belum ketahuan ada di mana

Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya, Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan.



Pada dasarnya HSD punya formula yang sangat ampuh untuk menjadikan penontonnya menguras air mata (tearjerker), nanmun banyak elemen dalam film ini seperti di buat terlalu instan sehingga terlihat menjadi sebuah film tearjeker yang sedikit terlihat di paksakan. Armantono (Surat Kecil Untuk Tuhan dan Ayah Mengapa Aku Berbeda) selaku penulis cerita tidak terlalu bisa menggali karakter yang hadir terlalu dalam. Hal lainnya yang bisa di katakan agak mengecewakan adalah masalah visual dari penggambaran bencana gempa dan tsunami walaupun bukan bencananya yang akan di tonjolkan disini tapi paling tidak dari bencana alam inilah permasalahan Delisa dimulai. Visual yang dihadirkan terlihat kasar dan membuat film ini kehilangan momentum yang telah di bangun dari awal. Sebuah visual yang mengecewakan bila di bandingkan dengan Hearafter(2010)...hahahah jauh donk tentunya...Holliwood gitu loh.

Namun bagaimanapun juga, jajaran cast harus di akui mampu bereksresi dengan baik, Tokoh Delisa tampil dengan sangat natural. Nirina Zubir(aktris pavorit saya) membuktikan bahwa dirinya belum kehilangan pesona, Reza Rahadian seperti biasa tampil all out. Di beberapa moment saya juga sempat menitikkan air mata, bukan hanya karena kisah yang di hadirkan, tapi sembari mengingat tragedi yang terjadi pada 7 tahun silam, tepatnya di negeri serambi mekkah ku sendiri, Aceh. Sebagai warga Aceh, saya tau betul bagaimana rasanya menghadapi kehidupan pasca bencana nahas tersebut.

Hafalan Shalat Delisa (HDS) masih sangat layak untuk di saksikan, dan bersiaplah untuk mengurai air mata. Sebuah film yang mengajarkan kita tentang sebuah keikhlasan, semangat dan makna kehidupan yang begitu menyentuh.


********** (7/10)

Hafalan Shalat Delisa (2011)
Directed by Sony Gaokasak Produced by Chand Parwez Servia Written by Armantono (screenplay), Tere Liye (novel, Hafalan Shalat Delisa) Starring Chantiq Schagerl, Fathir Muchtar, Gina Salsabila, Loide Christina Teixeira, Mike Lewis, Nirina Zubir, Reza Rahadian, Teuku Umam, Hannah Al Rashid, Riska Tania Apriadi, Reska Tania Apriadi, Joehana Sutisna Music by Tya Subiakto Cinematography Bambang Supriadi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Kharisma Starvision Plus Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar